Keputusan Timnas Iran untuk tidak memasukkan Sardar Azmoun ke dalam skuad Piala Dunia 2026 menjadi salah satu topik yang menarik perhatian publik sepak bola Asia. Nama penyerang senior tersebut tidak muncul dalam daftar pemain yang di persiapkan untuk turnamen terbesar dunia, sehingga memunculkan berbagai spekulasi mengenai alasan di balik keputusan tersebut.
Bagi penggemar sepak bola Iran, absennya Azmoun tentu terasa cukup mengejutkan. Selama bertahun-tahun, ia menjadi salah satu pemain paling berpengaruh di lini depan Team Melli. Pengalamannya di level internasional serta produktivitasnya dalam mencetak gol menjadikan dirinya sebagai sosok yang identik dengan kekuatan serangan Iran dalam berbagai kompetisi besar.
Meski kini tidak lagi menjadi bagian dari rencana tim nasional untuk Piala Dunia 2026, kontribusi yang telah ia berikan sepanjang kariernya tetap menempatkan namanya sebagai salah satu pemain penting dalam sejarah sepak bola Iran modern.
Awal Karier dan Julukan Messi Iran
Sardar Azmoun lahir di Gonbad-e Kavus, Iran, pada 1 Januari 1995. Sejak usia muda, ia menunjukkan bakat luar biasa sebagai penyerang. Kecepatan, kemampuan membaca permainan, serta insting mencetak gol membuat banyak pengamat sepak bola memberikan perhatian khusus terhadap perkembangannya.
Berkat performa yang konsisten di usia muda, Azmoun mulai dikenal luas sebagai “Messi Iran”. Julukan tersebut muncul karena kemampuannya menciptakan peluang dan memberikan ancaman di area pertahanan lawan.
Karier profesionalnya di mulai ketika bergabung dengan Rubin Kazan pada tahun 2013. Klub Rusia tersebut menjadi tempat pertama bagi Azmoun untuk mengembangkan kemampuan di level profesional sekaligus membangun reputasi sebagai salah satu talenta terbaik yang dimiliki Iran.
Bersinar di Liga Rusia Bersama Rostov dan Zenit
Perjalanan Azmoun di Rusia menjadi fase penting dalam perkembangan kariernya. Setelah membela Rubin Kazan selama beberapa musim, ia memperoleh kesempatan bermain bersama Rostov melalui skema peminjaman.
Di klub tersebut, Azmoun berhasil menunjukkan peningkatan performa yang signifikan. Pada musim pertamanya, ia mampu mencetak belasan gol dari puluhan pertandingan yang di jalani. Ketajamannya membantu tim bersaing di kompetisi domestik sekaligus meningkatkan nilai dirinya di pasar transfer.
Penampilan impresif tersebut membuat Rostov memutuskan untuk mempertahankannya secara permanen. Meskipun produktivitas golnya sempat mengalami fluktuasi pada musim berikutnya, banyak pihak tetap menilai Azmoun sebagai salah satu penyerang muda paling menjanjikan di kawasan Eropa Timur.
Setelah kembali memperkuat Rubin Kazan, Azmoun memasuki periode terbaik dalam karier klubnya saat bergabung dengan Zenit Saint Petersburg pada 2019. Bersama klub raksasa Rusia itu, ia berkembang menjadi salah satu striker paling produktif di liga.
Dalam kurun waktu sekitar tiga tahun, Azmoun berhasil mencetak lebih dari 50 gol dan membantu Zenit meraih berbagai gelar domestik. Performa tersebut membuat namanya semakin dikenal di tingkat internasional dan membuka peluang untuk bermain di kompetisi yang lebih kompetitif.

Dijuluki Messi Iran, Sardar Azmoun Justru Tak Masuk Skuad Piala Dunia 2026
Menembus Bundesliga dan Melanjutkan Karier Internasional
Kesuksesan di Rusia membawa Azmoun menuju Bundesliga setelah Bayer Leverkusen merekrutnya pada tahun 2022. Kepindahan tersebut menjadi langkah penting dalam kariernya karena ia berkesempatan tampil di salah satu liga terbaik Eropa.
Meski menghadapi persaingan yang lebih ketat, Azmoun tetap menunjukkan kualitasnya sebagai penyerang berpengalaman. Setelah menjalani periode bersama Leverkusen, ia melanjutkan petualangan dengan membela AS Roma melalui status pinjaman.
Pengalaman bermain di Italia menambah wawasan dan kematangannya sebagai pemain profesional. Selanjutnya, Azmoun memilih melanjutkan karier di Uni Emirat Arab dengan bergabung bersama Shabab Al Ahli.
Perjalanan tersebut menunjukkan kemampuan Azmoun untuk beradaptasi di berbagai kompetisi dan lingkungan sepak bola yang berbeda.
Kontribusi Besar untuk Tim Nasional Iran
Selain sukses di level klub, Azmoun juga mencatat perjalanan luar biasa bersama Timnas Iran. Ia mengawali kiprahnya melalui berbagai kelompok usia sebelum akhirnya menembus skuad senior.
Sejak menjalani debut internasional, Azmoun terus menjadi pilihan utama di lini depan Team Melli. Ia tampil dalam lebih dari 90 pertandingan internasional dan menyumbangkan 57 gol untuk negaranya.
Catatan tersebut menempatkannya di jajaran pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah sepak bola Iran. Produktivitasnya menjadikan Azmoun sebagai sosok yang berperan besar dalam menjaga daya saing Iran di tingkat Asia maupun dunia.
Dalam beberapa turnamen besar, ia juga membangun kemitraan yang solid bersama Mehdi Taremi. Kombinasi keduanya kerap menjadi senjata utama Iran saat menghadapi lawan-lawan kuat.
Kontroversi dan Spekulasi di Balik Absennya Azmoun
Menjelang Piala Dunia 2026, pelatih Amir Ghalenoei beberapa kali tidak menyertakan nama Azmoun dalam agenda tim nasional. Kondisi tersebut memunculkan tanda tanya besar di kalangan pendukung Iran.
Sejumlah laporan mengaitkan absennya sang pemain dengan kontroversi yang terjadi di luar lapangan. Saat membela Shabab Al Ahli di Dubai, Azmoun sempat mengunggah foto pertemuannya dengan pejabat tinggi Uni Emirat Arab melalui media sosial.
Unggahan tersebut memicu berbagai reaksi karena muncul di tengah situasi geopolitik yang sensitif antara Iran dan Uni Emirat Arab. Meskipun Azmoun kemudian menghapus foto tersebut, perdebatan yang muncul terus berkembang di kalangan publik.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi yang secara tegas menghubungkan kontroversi tersebut dengan keputusan tim nasional. Namun, berbagai spekulasi terus bermunculan menjelang Piala Dunia 2026.
Terlepas dari alasan absennya kali ini, perjalanan Sardar Azmoun tetap menjadi bagian penting dari sejarah sepak bola Iran. Ia telah memberikan kontribusi besar selama lebih dari satu dekade dan membantu Team Melli mempertahankan status sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola Asia. Namanya akan selalu di kenang sebagai salah satu penyerang paling berpengaruh yang pernah di miliki Iran di era modern.