Liga Champions – Pekan ini menjadi periode yang kurang menyenangkan bagi klub-klub dari Premier League yang berlaga di UEFA Champions League. Enam tim Inggris menjalani pertandingan leg pertama babak 16 besar, tetapi tidak satu pun berhasil meraih kemenangan.

Beberapa klub masih mampu menghindari kekalahan. Newcastle United dan Arsenal mengamankan hasil imbang saat menghadapi lawan kuat dari Eropa. Newcastle bermain imbang melawan FC Barcelona, sedangkan Arsenal menahan Bayer Leverkusen.

Sebaliknya, empat klub Inggris lainnya harus menerima kekalahan. Manchester City kalah dari Real Madrid, sementara Chelsea tak mampu menahan serangan Paris Saint-Germain. Hasil ini memicu diskusi luas mengenai faktor yang memengaruhi performa tim-tim Inggris di kompetisi Eropa.

Jadwal Padat Premier League dan Dampaknya pada Performa Tim

Banyak analis sepak bola menyoroti jadwal pertandingan yang sangat padat sebagai salah satu penyebab utama menurunnya performa klub Inggris. Klub-klub Premier League memainkan lebih banyak pertandingan dibandingkan sebagian besar klub dari liga top Eropa lainnya.

Sebagian besar wakil Inggris di babak 16 besar termasuk dalam daftar tim dengan jumlah pertandingan tertinggi musim ini. Jadwal padat tersebut memaksa pemain tampil hampir setiap pekan tanpa jeda yang cukup untuk pemulihan fisik.

Selain jumlah pertandingan, intensitas kompetisi domestik juga sangat tinggi. Pertandingan Premier League sering menghadirkan tempo cepat dan jumlah sprint yang lebih banyak dibandingkan liga Eropa lainnya. Kondisi ini menuntut pemain menjaga stamina dan kebugaran pada level yang sangat tinggi sepanjang musim.

Akibatnya, sejumlah pemain mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan ketika memasuki fase krusial Liga Champions. Walaupun faktor ini cukup berpengaruh, kelelahan fisik bukan satu-satunya alasan yang menjelaskan hasil pertandingan tersebut.

klub Premier League gagal menang di Liga Champions babak 16 besar

Aksi Declan Rice dalam laga Bayer Leverkusen vs Arsenal di leg pertama 16 besar Liga Champions 2025/2026, Kamis (12/3/2026).

Tantangan Bermain Tandang di Kompetisi Eropa

Faktor lain yang sering luput dari perhatian adalah lokasi pertandingan. Pada leg pertama babak 16 besar, sebagian besar klub Inggris harus bermain di kandang lawan.

Lima dari enam pertandingan berlangsung di luar Inggris. Statistik menunjukkan bahwa klub Premier League jarang meraih kemenangan ketika bermain tandang di negara seperti Spanyol, Jerman, atau Turki.

Contohnya, Liverpool harus menyerah saat bertandang ke Istanbul menghadapi Galatasaray. Manchester City juga mengalami kesulitan saat bermain di stadion Santiago Bernabéu Stadium milik Real Madrid. Sementara itu, Chelsea tidak mampu menahan dominasi PSG di Paris.

Format baru Liga Champions memberikan keuntungan kepada tim yang finis di delapan besar fase liga. Mereka mendapatkan kesempatan memainkan leg kedua di kandang sendiri. Namun, format tersebut membuat mereka harus menghadapi tekanan lebih dulu saat bermain di markas lawan pada leg pertama.

Situasi ini memberi peluang bagi tim seperti Real Madrid dan PSG untuk membangun momentum sejak awal pertandingan.

Evaluasi Performa Setiap Klub Inggris

Jika melihat lebih dalam, setiap klub Inggris menghadapi masalah yang berbeda pada pertandingan leg pertama.

Arsenal kehilangan konsentrasi ketika memasuki babak kedua saat melawan Bayer Leverkusen. Tim asuhan Mikel Arteta kebobolan segera setelah jeda pertandingan. Padahal tim sudah mempelajari pola kickoff cepat yang sering digunakan oleh lawan.

Chelsea mengalami masalah dalam mengendalikan permainan pada menit-menit akhir. Pelatih Liam Rosenior menilai timnya kehilangan fokus sehingga PSG mampu mencetak beberapa gol tambahan.

Liverpool menghadapi persoalan klasik, yaitu penyelesaian akhir yang kurang efektif. Menurut pelatih Arne Slot, timnya sebenarnya menciptakan beberapa peluang penting. Namun para pemain gagal mengubah peluang tersebut menjadi gol.

Manchester City juga menghadapi kesulitan taktik ketika melawan Real Madrid. Susunan pemain yang terlalu ofensif membuat lini tengah mereka mudah ditembus ketika lawan melakukan serangan balik cepat.

Di sisi lain, Tottenham mengalami pertandingan yang sangat sulit saat menghadapi Atlético Madrid. Kekalahan besar tersebut menunjukkan adanya masalah kepercayaan diri dan ketidakseimbangan dalam komposisi skuad.

Newcastle Menunjukkan Performa Menjanjikan

Di antara semua klub Inggris, Newcastle justru menampilkan performa yang cukup meyakinkan. Mereka menahan Barcelona dengan skor 1–1 dalam pertandingan yang berlangsung sengit.

Newcastle bahkan hampir meraih kemenangan setelah Harvey Barnes mencetak gol pada menit ke-86. Namun Barcelona menyamakan skor melalui penalti pada masa tambahan waktu.

Pelatih Eddie Howe menilai timnya bermain sangat baik sepanjang pertandingan. Ia juga menegaskan bahwa pemain Newcastle mampu menunjukkan ketahanan mental dan fisik meskipun menjalani musim dengan jadwal yang sangat padat.

Menurut Howe, tuntutan fisik musim ini merupakan salah satu yang terberat bagi timnya. Meski begitu, para pemain tetap menunjukkan semangat kompetitif ketika menghadapi klub besar Eropa.

Kesimpulan

Hasil leg pertama babak 16 besar Liga Champions menunjukkan bahwa klub-klub Premier League menghadapi berbagai tantangan. Jadwal pertandingan yang padat, tekanan bermain tandang, serta masalah taktik dan efektivitas permainan memengaruhi performa mereka.

Namun, peluang masih terbuka pada leg kedua. Jika klub-klub Inggris mampu memperbaiki strategi dan memanfaatkan keuntungan bermain di kandang, mereka masih memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan dan melangkah lebih jauh di Liga Champions.