Gaji Pemain Tertinggi Di 5 Liga Top Eropa memperlihatkan bahwa kekuatan finansial setiap kompetisi memiliki pola yang berbeda. Premier League memang terkenal sebagai liga dengan pemasukan besar, tetapi La Liga justru mencatat rata-rata bayaran tertinggi untuk 10 pemain bergaji terbesar. Sementara itu, Bundesliga dan Ligue 1 memperlihatkan dominasi kuat dari satu klub.
Data dari Capology menunjukkan bahwa persaingan sepak bola Eropa tidak hanya berlangsung di lapangan. Klub-klub elite juga bersaing melalui kontrak bernilai fantastis demi mempertahankan atau mendatangkan pemain terbaik.
La Liga menempati posisi pertama dalam daftar rata-rata gaji 10 pemain teratas. Premier League berada tepat di belakangnya. Bundesliga, Ligue 1, dan Serie A kemudian menyusul dengan nominal yang lebih rendah.
La Liga Pimpin Rata-Rata Gaji Pemain Teratas
La Liga mencatat rata-rata gaji sekitar Rp8,23 miliar per pekan untuk 10 pemain dengan bayaran tertinggi. Kylian Mbappe dan Vinicius Junior menempati posisi teratas dengan pendapatan sekitar Rp12,31 miliar setiap pekan.
Capology memperkirakan Vinicius menerima gaji pokok yang setara dengan Mbappe. Namun, Mbappe memiliki peluang memperoleh pendapatan lebih besar melalui berbagai bonus dalam kontraknya.
Di bawah kedua pemain Real Madrid tersebut, Jan Oblak, Jude Bellingham, dan Lamine Yamal mendapatkan sekitar Rp8,21 miliar per pekan. Nico Williams menyusul dengan penghasilan sekitar Rp6,77 miliar.
Sementara itu, Ibrahima Konate, Raphinha, Rodrygo, dan Trent Alexander-Arnold berada di kisaran Rp6,58 miliar setiap pekan.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa Real Madrid memiliki sejumlah pemain dengan nilai kontrak sangat tinggi. Namun, Atletico Madrid juga menunjukkan kemampuan finansialnya melalui kontrak besar yang diberikan kepada Jan Oblak.
Erling Haaland Kuasai Daftar Gaji Premier League
Premier League memiliki rata-rata gaji sekitar Rp7,70 miliar per pekan untuk 10 pemain berpenghasilan tertinggi. Erling Haaland memimpin daftar tersebut dengan bayaran sekitar Rp12,6 miliar setiap pekan.
Virgil van Dijk berada di posisi berikutnya dengan gaji sekitar Rp8,4 miliar. Marcus Rashford, Bruno Fernandes, Jack Grealish, dan Bukayo Saka masing-masing menerima kurang lebih Rp7,2 miliar per pekan.
Omar Marmoush mendapatkan sekitar Rp7,08 miliar. Alexander Isak, Phil Foden, dan Kai Havertz kemudian melengkapi jajaran 10 besar dengan pendapatan sekitar Rp6,72 miliar setiap pekan.
Angka tersebut kembali memperlihatkan kekuatan ekonomi Premier League. Klub-klub Inggris mampu membayar pemain dari berbagai tim dengan nilai tinggi, sehingga distribusi pemain bergaji besar lebih merata dibandingkan beberapa liga lainnya.
Meski demikian, besarnya kontrak tentu tidak otomatis menjamin performa seorang pemain. Klub tetap membutuhkan kontribusi konsisten agar investasi besar tersebut memberikan hasil maksimal.

Pemain Norwegia Erling Haaland meninggalkan lapangan saat turun minum dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 antara Norwegia vs Inggris di Miami Gardens, Florida, Sabtu, 11 Juli 2026.
Bayern Munchen Mendominasi Bundesliga
Bundesliga menunjukkan pola yang berbeda. Bayern Munchen menguasai seluruh posisi dalam daftar 10 pemain bergaji tertinggi di kompetisi Jerman.
Harry Kane berada di urutan pertama dengan bayaran sekitar Rp9,86 miliar per pekan. Jamal Musiala menyusul dengan Rp9 miliar, sedangkan Joshua Kimmich memperoleh sekitar Rp7,90 miliar.
Dayot Upamecano, Manuel Neuer, Alphonso Davies, Luis Diaz, Michael Olise, Serge Gnabry, dan Min-jae Kim juga masuk dalam jajaran pemain dengan gaji terbesar.
Rata-rata pendapatan 10 pemain tersebut mencapai sekitar Rp6,56 miliar per pekan.
Dominasi Bayern semakin terlihat karena pemain dari klub Bundesliga lain baru muncul setelah posisi ke-13. Sebagai perbandingan, pemain dengan gaji tertinggi di Borussia Dortmund hanya menerima sekitar Rp3,72 miliar setiap pekan.
Kondisi itu menegaskan besarnya jarak kemampuan finansial Bayern dibandingkan mayoritas pesaing domestiknya.
PSG Kuasai Seluruh 10 Besar Ligue 1
Situasi serupa terjadi di Prancis. Paris Saint-Germain menempatkan seluruh pemain dalam 10 besar daftar gaji Ligue 1.
Ousmane Dembele memimpin dengan pendapatan sekitar Rp7,18 miliar per pekan. Khvicha Kvaratskhelia berada di bawahnya dengan Rp6,46 miliar, sedangkan Achraf Hakimi mendapatkan sekitar Rp5,38 miliar.
Marquinhos menerima sekitar Rp5,30 miliar setiap pekan. Lucas Hernandez mendapatkan Rp5,23 miliar, sementara Vitinha memperoleh sekitar Rp4,66 miliar.
Warren Zaire-Emery berada di angka Rp4,51 miliar dan Nuno Mendes sekitar Rp4,30 miliar. Willian Pacho serta Joao Neves melengkapi daftar dengan pendapatan kurang lebih Rp3,58 miliar per pekan.
Secara keseluruhan, rata-rata gaji 10 pemain tertinggi Ligue 1 mencapai sekitar Rp5,02 miliar.
Komposisi tersebut memperlihatkan kekuatan ekonomi PSG yang jauh melampaui banyak klub Ligue 1 lainnya. Klub asal Paris itu masih menjadi pusat kontrak bernilai besar di sepak bola Prancis.
Serie A Catat Rata-Rata Gaji Terendah
Serie A menempati posisi terakhir di antara lima liga top Eropa dalam perbandingan ini. Rata-rata gaji 10 pemain teratas di Italia mencapai sekitar Rp4,42 miliar per pekan.
Lautaro Martinez menjadi pemain dengan bayaran terbesar dengan nilai sekitar Rp6,58 miliar setiap pekan. Nicolo Barella mengikuti dengan Rp4,75 miliar, sedangkan Hakan Calhanoglu memperoleh sekitar Rp4,39 miliar.
Jonathan David, Kenan Yildiz, dan Kevin De Bruyne juga berada di kisaran Rp4,39 miliar per pekan.
Randal Kolo Muani dan Alessandro Bastoni menerima sekitar Rp4,01 miliar. Christopher Nkunku serta Rasmus Hojlund kemudian melengkapi 10 besar dengan bayaran kurang lebih Rp3,65 miliar setiap pekan.
Data tersebut menunjukkan perubahan posisi Serie A dalam peta ekonomi sepak bola Eropa. Kompetisi Italia pernah menjadi magnet utama pemain bintang dunia, terutama ketika klub-klubnya memiliki kekuatan finansial sangat besar.
Kini, rata-rata gaji pemain elite Serie A berada di bawah La Liga, Premier League, Bundesliga, dan Ligue 1.
Perbedaan Finansial 5 Liga Top Eropa Semakin Terlihat
Perbandingan gaji pemain tertinggi di 5 liga top Eropa memperlihatkan bahwa setiap kompetisi memiliki karakter finansial berbeda.
La Liga unggul dalam rata-rata gaji berkat sejumlah kontrak bernilai sangat besar. Premier League menunjukkan distribusi kekuatan finansial yang lebih luas karena banyak klub mampu memberikan bayaran tinggi.
Bundesliga dan Ligue 1 justru memperlihatkan dominasi masing-masing dari Bayern Munchen dan PSG. Sementara itu, Serie A mencatat rata-rata paling rendah di antara lima kompetisi tersebut.
Perbedaan tersebut membuktikan bahwa kekuatan ekonomi sebuah liga tidak hanya bergantung pada total pemasukan kompetisi. Strategi klub, struktur kontrak, kemampuan komersial, dan kebijakan transfer juga ikut menentukan besarnya pendapatan pemain.