Como 1907 Di Liga Champions menjadi salah satu cerita menarik pada musim 2026-2027 setelah tim arahan Cesc Fabregas mendapatkan kesempatan pertama tampil di kompetisi elite Eropa. Klub asal Italia tersebut memasuki turnamen dengan kondisi yang berbeda dibandingkan banyak pesaingnya. Como belum mempunyai pengalaman di Liga Champions dan sebagian besar kekuatan tim bertumpu pada pemain berusia relatif muda.
Tiket menuju kompetisi Eropa tersebut datang setelah Como menyelesaikan Liga Italia musim sebelumnya di urutan keempat. Hasil itu sekaligus menciptakan tonggak baru dalam sejarah klub.
Perubahan level Como berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Tujuh tahun sebelumnya, klub berjuluk Il Lariani masih menjalani pertandingan di Serie D, kasta keempat dalam struktur kompetisi sepak bola Italia. Setelah melewati perjalanan panjang menuju level teratas, Como sekarang mendapat tantangan yang jauh lebih besar.
RB Leipzig akan menjadi lawan pertama yang menguji kemampuan mereka. Como memainkan pertandingan tersebut di Stadion Giuseppe Sinigaglia pada Kamis (10/9/2026) atau Jumat pukul 02.00 WIB.
Pertandingan itu tidak sekadar membuka perjalanan baru pada musim ini. Laga tersebut juga menandai penampilan perdana Como sepanjang sejarah Liga Champions.
Fabregas Mengandalkan Generasi Muda
Salah satu karakter utama tim racikan Fabregas terlihat melalui usia para pemainnya. Como memberi ruang besar kepada sejumlah talenta muda untuk memegang peran penting di lapangan.
Nico Paz masuk dalam kelompok tersebut bersama Assane Diao, Martin Baturina, serta Jacobo Ramon. Keempatnya menjadi bagian dari generasi yang membawa Como memasuki persaingan baru di Eropa.
Data Transfermarkt mencatat usia rata-rata keseluruhan anggota skuad berada pada angka 25,1 tahun. Jika perhitungan hanya mencakup pemain yang sudah turun dalam tiga pertandingan awal Serie A 2026-2027, angkanya bahkan mencapai 24,5 tahun.
Komposisi tersebut menghadirkan dua sisi berbeda bagi Fabregas. Para pemain muda mempunyai tenaga dan motivasi besar, tetapi mereka juga harus menghadapi atmosfer kompetisi yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Alessandro Costacurta termasuk sosok yang menyoroti kondisi itu. Mantan bek tim nasional Italia tersebut memperkirakan usia muda pemain bisa menghadirkan tantangan bagi Como ketika memasuki persaingan Liga Champions.
Meski demikian, Costacurta tidak melihat minimnya pengalaman sebagai alasan untuk meragukan seluruh peluang Il Lariani.
Antusiasme Bisa Menjadi Senjata
Costacurta justru menaruh perhatian pada karakter yang dibawa kelompok muda Como. Ia melihat besarnya energi serta antusiasme sebagai faktor yang dapat membantu tim ketika berhadapan dengan klub-klub yang lebih terbiasa bermain di Eropa.
Pandangan tersebut membuat mantan pemain AC Milan itu berani memperkirakan perjalanan Como tidak akan langsung berhenti pada tahap awal.
Costacurta meyakini tim arahan Fabregas memiliki kemampuan untuk mencapai babak 16 besar pada musim pertamanya.
Prediksi tersebut tentu memberikan ekspektasi besar kepada sebuah klub debutan. Namun, perjalanan Como dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang sangat cepat. Mereka bukan hanya berhasil meninggalkan Serie D, tetapi juga mampu menembus empat besar kompetisi kasta tertinggi Italia.
Kini, level tantangannya meningkat lagi. Lawan-lawan dari berbagai negara Eropa akan memberikan ujian berbeda dibandingkan persaingan domestik.
Karena itu, pertandingan pertama melawan Leipzig akan memberikan gambaran awal mengenai kesiapan skuad muda Como menjalani tekanan di Liga Champions.

Momen selebrasi gol Anastasios Douvikas dalam pertandingan sepak bola Serie A Liga Italia Napoli vs Como di stadion Diego Armando Maradona di Naples pada 30 Agustus 2026.
Inter Memiliki Bekal Lebih Matang
Ketika membicarakan peluang wakil Italia secara keseluruhan, Costacurta memberikan penilaian berbeda kepada Inter Milan. Ia menempatkan Inter sebagai tim Serie A yang paling berpotensi bertahan lama dalam persaingan Eropa.
Dasar penilaian tersebut salah satunya berasal dari kekuatan skuad Inter setelah menjalani bursa transfer musim panas.
Inter menambah John Stones, Djed Spence, serta Curtis Jones ke dalam tim. Ketiga pemain tersebut membawa pengalaman yang dapat membantu klub menghadapi persaingan di level Eropa.
Costacurta menilai aktivitas transfer itu meningkatkan daya saing Inter secara signifikan. Ia sebelumnya memperkirakan masih terdapat sekitar enam hingga tujuh klub yang mempunyai kekuatan lebih baik. Namun, kedatangan pemain baru membuatnya mengubah penilaian tersebut.
Spence dan Curtis Jones secara khusus mendapatkan perhatian positif darinya. Tambahan kualitas dari bursa transfer membuat Inter semakin dekat dengan kelompok klub terkuat.
Selain mempunyai komposisi pemain yang lebih matang, Inter juga menawarkan karakter tim yang kokoh. Atas dasar itu, Costacurta melihat mereka sebagai wakil Italia yang memiliki peluang besar untuk bertahan sampai tahap akhir apabila perjalanan tim turut didukung hasil yang menguntungkan.
Dua Cerita Berbeda dari Italia
Como dan Inter akhirnya memasuki Liga Champions dengan bekal yang tidak sama. Inter membawa pengalaman serta skuad yang semakin kuat, sedangkan Como menawarkan semangat dari sebuah tim yang baru mencapai panggung terbesar Eropa.
Bagi Il Lariani, musim 2026-2027 membuka kesempatan untuk menguji seberapa jauh perkembangan mereka. Dalam kurun tujuh tahun, klub tersebut telah bergerak dari kasta keempat Italia hingga mendapatkan tempat di Liga Champions.
Fabregas sekarang menghadapi tugas untuk mengubah potensi skuad mudanya menjadi hasil di lapangan. Nico Paz, Assane Diao, Martin Baturina, Jacobo Ramon, dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan tingkat persaingan yang lebih tinggi.
Usia muda memang menghadirkan tantangan. Namun, faktor yang sama juga memberi Como energi yang menjadi dasar optimisme Costacurta.
Ujian pertama segera hadir melalui RB Leipzig. Hasil pertandingan tersebut nantinya menjadi langkah awal Como dalam perjalanan baru, sekaligus kesempatan pertama Il Lariani menunjukkan kemampuan mereka di panggung elite Eropa.