UEFA – memastikan tidak akan menerapkan aturan Prestianni Law pada seluruh kompetisi yang berada di bawah naungannya mulai musim 2026/2027. Keputusan tersebut membuat Liga Champions, Liga Europa, Conference League, UEFA Nations League. Hingga Piala Eropa tidak akan mengikuti regulasi yang sebelumnya mulai di perkenalkan FIFA pada Piala Dunia 2026.
Kebijakan itu menarik perhatian publik sepak bola karena Prestianni Law sempat menjadi salah satu aturan baru yang paling banyak di bicarakan selama berlangsungnya Piala Dunia 2026. UEFA memilih mengambil pendekatan berbeda dengan tetap memberikan keleluasaan kepada wasit untuk menilai setiap insiden secara langsung di lapangan.
UEFA Memilih Tidak Mengadopsi Prestianni Law
Dalam pengumuman resminya, UEFA menjelaskan bahwa aturan yang secara otomatis berpotensi menghasilkan kartu merah. Akibat pemain berbicara sambil menutupi mulut tidak akan di terapkan di kompetisi Eropa.
Sebagai gantinya, perangkat pertandingan di minta untuk menilai setiap kejadian berdasarkan konteks yang terjadi di lapangan. Apabila tindakan seorang pemain di nilai tidak sportif, wasit tetap memiliki kewenangan memberikan hukuman berupa kartu kuning sesuai pertimbangan masing-masing.
Pendekatan tersebut di anggap lebih fleksibel di bandingkan penerapan aturan yang bersifat otomatis seperti yang digunakan FIFA di Piala Dunia 2026.
Meski demikian, UEFA menegaskan bahwa keputusan di lapangan tidak akan menghalangi proses disiplin lanjutan apabila di temukan dugaan pelanggaran serius setelah pertandingan selesai.
Dengan kata lain, perilaku pemain yang mengandung unsur diskriminasi, penghinaan, atau tindakan tidak pantas tetap dapat di proses melalui mekanisme investigasi disiplin UEFA.
Aturan Baru FIFA Sudah Memakan Korban di Piala Dunia 2026
Prestianni Law mulai di berlakukan FIFA selama Piala Dunia 2026 sebagai bagian dari upaya memperketat pengawasan terhadap tindakan verbal yang sulit di buktikan di lapangan.
Aturan tersebut memungkinkan seorang pemain menerima kartu merah apabila berbicara kepada lawannya sambil menutupi mulut dalam situasi konfrontatif. Langkah itu di ambil untuk mengurangi peluang pemain menyampaikan ucapan yang mengandung unsur rasis, seksis. Maupun penghinaan tanpa dapat di baca melalui rekaman video.
Sejak di berlakukan, sudah ada dua pemain yang menerima hukuman berdasarkan regulasi tersebut.
Miguel Almiron dari Paraguay menjadi pemain pertama yang mendapat kartu merah ketika menghadapi Turki pada fase grup Piala Dunia 2026.
Beberapa hari kemudian, giliran bek Ekuador, Piero Hincapie, yang mengalami nasib serupa saat timnya menghadapi Meksiko pada babak 32 besar.
Kedua insiden itu semakin memperbesar perhatian publik terhadap efektivitas aturan baru FIFA tersebut.

Piero Hincapie
UEFA Tetap Mengedepankan Penilaian Wasit
Berbeda dengan FIFA, UEFA menilai bahwa keputusan di lapangan sebaiknya tetap mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menjatuhkan hukuman kepada pemain.
Karena itu, badan sepak bola Eropa tersebut meminta para wasit untuk mengevaluasi setiap insiden secara menyeluruh. Termasuk situasi pertandingan, gestur pemain, serta tingkat pelanggaran yang terjadi.
Jika tindakan pemain hanya di anggap sebagai perilaku tidak sportif tanpa bukti kuat adanya pelanggaran berat, hukuman kartu kuning di nilai sudah cukup sebagai bentuk sanksi.
Namun apabila setelah pertandingan di temukan bukti lain yang mengarah pada tindakan diskriminatif atau pelanggaran etik. UEFA tetap membuka peluang memberikan hukuman tambahan melalui Komite Disiplin.
UEFA Juga Menolak Aturan Lain dari FIFA
Selain menolak penerapan Prestianni Law, UEFA juga memastikan tidak akan mengikuti aturan FIFA yang memberikan kartu merah kepada pemain yang sengaja mogok bermain atau melakukan aksi tertentu sebagai bentuk protes.
Meski demikian, tidak semua inovasi FIFA di tolak. UEFA tetap akan mengadopsi penggunaan Video Assistant Referee (VAR) untuk membantu memastikan keputusan terkait tendangan sudut yang seharusnya berubah menjadi tendangan gawang.
Teknologi tersebut di nilai mampu meningkatkan akurasi keputusan wasit sehingga layak di terapkan di kompetisi Eropa mulai musim mendatang.
Latar Belakang Munculnya Prestianni Law
Lahirnya Prestianni Law tidak terlepas dari insiden yang terjadi pada laga play-off Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid pada Februari lalu.
Dalam pertandingan tersebut, Vinicius Junior menuding Gianluca Prestianni melontarkan ucapan bernada rasis sambil menutupi mulut sehingga sulit di buktikan secara langsung.
Prestianni kemudian membantah tuduhan tersebut. Dalam proses penyelidikan UEFA. Ia mengakui sempat mengucapkan kata-kata bernada menghina kepada Vinicius, tetapi membantah melakukan penghinaan rasial.
Hasil investigasi membuat pemain tersebut tetap di jatuhi hukuman larangan bermain sebanyak enam pertandingan. Dari total sanksi tersebut, tiga pertandingan di tangguhkan selama dua tahun sebagai bagian dari keputusan disiplin UEFA.
Kasus tersebut memicu diskusi luas di dunia sepak bola mengenai pentingnya transparansi komunikasi antarpemain ketika terjadi konfrontasi di lapangan.
FIFA kemudian memperkenalkan Prestianni Law dengan harapan dapat memberikan efek jera sekaligus mengurangi peluang munculnya ucapan bernada rasis, seksis. Maupun penghinaan lain yang sulit di buktikan melalui tayangan pertandingan.
Sementara itu, UEFA memilih jalur berbeda dengan tetap mengutamakan penilaian wasit serta proses disiplin lanjutan apabila di temukan bukti yang cukup setelah pertandingan usai.